Bulan yang indah dan selalu tersenyum cerah memang tidak akan pernah lari dari pandangan mata ini. Ke manapun kaki ini melangkah, bulan akan selalu menampakkan naungan cahayanya di atas pundak ini. Meringankan semua kegelapan yang di hadapi kesepian diri ini. Menitikkan secercah harapan untuk hati ini dengan hangatnya pelukan sang bulan.
Tetapi kenapa di malam yang kelam ini bulan menyembunyikan terang cintanya? Terangnya cinta yang selama ini menyelimuti bumi ini. Ke manakah hati ini harus berlari mencari cahaya baru yang sama indahnya?
Bintang. Cahayamu yang redup mungkin tidak akan bisa menerangi hati yang ditinggalkan ini. Cahayamu tidak akan bisa memberi hangat yang cukup untuk sepi ini. Kelap-kelipmu tidak akan mungkin bisa menghibur resahnya pikiran ini. Aku yakin bumi ini tidak merasakan arti hadirmu. Hadirmu tidak akan pernah menempati tempat yang berarti di alam ini.
Tapi.. kenapa bintang selalu bersinar tanpa henti? Bintang tetap bersinar selalu ketika malam menampakkan murkanya. Bintang tetap bersinar dengan segala daya dan upaya mencoba mencari tempat di tengah-tengah dominasi terangnya cahaya bulan. Bintang tetap setia bersinar di malam ketika bulan tidak menampakkan sinarnya.
Inikah arti setia sebuah bintang? Inikah arti terang yang sesungguhnya? Terang yang kontinuitas yang tidak dapat diberikan sebuah bulan yang indah?
Bintang, akan kukorbankan seribu cahaya bulan untuk merasakan secercah cahaya hangatmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar